Jumat, 07 Jan 2011 19:53:42
Geliat Bromo Saat Punya "Hajat"
Erupsi Gunung Bromo yang terjadi di penghujung tahun 2010 hingga awal 2011 merusak berbagai infrastruktur. Abu vulkanik yang disemburkan gunung dengan ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu menimbun jalan, aneka tanaman budidaya, dan menumbangkan pepohonan.
Abu vulkanik juga merusak jaringan listrik, instalasi air bersih, gedung sekolah, dan rumah. Industri pawisata andalan Jawa Timur itu pun akhirnya lumpuh.
Namun warga Suku Tengger yang telah hidup bersahabat dengan gunung nan molek itu tetap sabar dan tulus menerima bencana tersebut. Bahkan warga Suku Tengger pantang menyebut peningkatan aktivitas Gunung Bromo itu sebagai bencana.
Warga Suku Tengger meyakini peningkatan aktivitas Gunung Bromo yang terjadi secara periodik antara 4 hingga 6 tahunan itu sebagai pertanda bahwa Ki Bromo sedang mempunyai gawe (hajat) membangun diri.
Semburan abu vulkanik Gunung Bromo diyakini bakal memberikan berkah kesuburan bagi lahan pertanian milik suku Tengger di kawasan sekitarnya. Yang artinya peningkatan aktivitas Gunung Bromo bakal juga memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar karena hasil pertaniannya bakal melimpah.
Sehingga peningkatan aktivitas Gunung Bromo akan selalu disambut dengan ritual labuh sesaji sebagai bentuk partisipasi warga suku Tengger terhadap Ki Bromo yang sedang mempunyai hajat tersebut.
Labuh sesaji merupakan ritual rutin suku Tengger yang dilaksankan di kawah Gunung Bromo setiap tahun sekali pada Yadnya Kasada. Namun persembahan sesaji bisa juga dilaksanakan secara insidentil tergantung dari wangsit Ki Bromo lewat seseorang warga yang mengalami trans (kemasukan roh) Roro Anteng atau Joko Seger, yakni leluhur suku TengGer di Bromo.
Ritual itu telah dilakukan warga suku Tengger Brang Kulon (Pasuruan). Meski telah dihadang petugas keamanan dari Probolinggo,warga suku Tengger dari wilayah Pasuruan ini tetap nekat melabuh sesaji ke kawah Gunung Bromo dini hari saat masih berstatus Awas.
Umat Hindu suku Tengger baik dari Brang Kulon (Pasuruan) maupun dari Brang Wetan (Probolinggo) juga tetap melaksanakan upacara Kuningan di Pura Luhur Poten di laut pasir, meski aktivitas Gunung Bromo juga masih tinggi.
Sebaliknya peningkatan aktivitas gunung Bromo juga menjadi daya tarik wisatawan, karena Gunung Bromo makin terlihat atraktif, dan makin menarik dipandang darisisi mana pun. Namun masih ada ganjalan bagi warga suku Tenger dari wilayah Probolinggo yang belum dapat melaksanakan labuh sesaji ke kawah Gunung Bromo. Warga suku Tengger asal Desa Wonokerso Kecamatan Sumber batal melaksanakan labuh sesaji ke kawah Gunung Bromo gara-gara dihadang petugas keamanan.
Sehingga ada perasaan dosa karena belum dapat mempersembahkan sesaji sebagai bentuk partsisipasi terhadap Ki Bromo. Sebab dalam realitasnya, wilayah Tosari Kabupaten Pasuruan yang warganya telah melaksanakan labuh sesaji aman dari semburan abu vulkanik.
Sebaliknya tiga kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang warganya belum dapat melaksanakan labuh sesaji wilayahnya rusak parah karena didera guyuran abu vulkanik Gunung Bromo.
Beda pendapat antara petugas keamanan dengan warga suku Tengger ini merupakan dua sisi pandangan masyarakat, antara logika rasional dan kearifan lokal.
Petugas keamanan yang melarang siapa saja mendekati Gunung Bromo yang sedang mengalami peningkatan aktivitas merupakan tugas komando struktural yang harus dilaksanakan. Sebaliknya warga Suku Tengger yang tetap bersikukuh melaksanakan ritual labuh sesaji juga merupakaan perintah transendental.
Teks dan Foto : Musyawir.
|
-
/UserFiles/story/Bromo1_07012011195040.jpg
-
/UserFiles/story/Bromo4_07012011195040.jpg
-
/UserFiles/story/Bromo_07012011195040.jpg
-
/UserFiles/story/Bromo6_07012011195040.jpg
-
/UserFiles/story/Bromo7_07012011195040.jpg
-
/UserFiles/story/Bromo3_07012011195040.jpg
-
/UserFiles/story/Bromo5_07012011195040.jpg
|